Pilu

Pada bab ini, memang baru, tapi dari cerita yang lalu. Perih, memang. Jika yang sudah berlalu, harus tetap kugali agar tetap bisa dijadikan sebuah cerita. Cerita yang sudah lama sekali berakhir.
Cerita yang pada akhirnya harus terputus ditengah jalan. Cerita tentang dua insan manusia yang pada akhirnya harus sama sama bisa merelakan.

Sulit kusadari, bahwa kata terakhir dari kita adalah sebuah ucapan yang sama sama menyakitkan. Didalamnya terdapat beberapa buah kata yang dipadu jadi sebuah kalimat menyedihkan. 

Mungkin waktu untuk tetap bersama sudah selesai sampai disini. Mungkin semesta ingin memberi cerita lain dibab selanjutnya dengan atau tidak ada nya orang baru. Kembali atau tidaknya yang sudah lalu. Itu sudah menjadi keputusan semesta untuk menjalankan tugasnya.

Tentang Jogja yang selalu istimewa, tentang Bandung yang indah karena didalamnya ada kamu, dan tentang Jakarta yang memilukan. Ketiga kota itu sama sama punya sejarah didalamnya, sejarah yang mungkin apabila diceritakan, pendengar atau pembacanya akan merasa senang sekaligus sedih. Senang karena apa yang dilalui sudah sangat indah, dan sedih karena perjalanan panjang yang harus diakhiri dengan keputusan masing-masing. 

Kalau bertanya tentang kabar, aku sudah lama tidak tau percis kabarnya seperti apa. Aku hanya diberi kesempatan untuk bergelut dengan kenangan-kenangan saja. Sebuah buku yang ia beri untukku, sudah masuk dalam lembaran akhir karena semua dongeng tentangnya aku tumpahkan disana. Gantungan kunci yang ia beri oleh-oleh dari Jogja, masih kupakai dengan apik dikunci lemari kamarku. Pun bunga-bunga mawar 5 tahun lalu yang masih tersimpan dan tertata rapi ditempat paling baik disudut kamarku . Walau keadaan nya sekarang sudah berubah, tidak lagi harum dan mekar seperti waktu itu. Yang ada hanya sisa-sisa bunga yang sudah kering karena termakan waktu, mungkin oranglain akan membuangnya karena sudah mati. Tapi entah, aku enggan membuangnya walau itu hanya setangkai bunga. Figura dengan photo dua insan manusia itu, masih terpajang disebuah dinding kamarku, masih percis, tak berubah, dan sama sekali tak ada yang ingin aku rubah. Toko susu murni yang selalu kita kunjungi, masih tetap buka meskipun salah satu dari pelanggannya sudah tidak pernah mampir kesana karena sudah tak bersama, entahlah, tempat itu jadi sangat menyakitkan setelah semuanya telah berakhir.

Setelah perpisahan itu sudah banyak sekali yang berubah, tentang hangat yang sekarang sudah tidak dekat, tentang jarak yang semakin hari makin berjarak, tentang rindu yang semakin dirasa semakin pilu dan membiru. 

Semesta, sedang apa ya dia sekarang? 
Bahagia atau pun sedih. Kumohon, Semesta. Kumohon padamu, menjaganya adalah pintaku padamu yang sangat serius. Melindunginya adalah harapku padamu yang kuharap kau akan melaksanakannya.

Semesta, aku sudah diberi jawaban oleh waktu, kalau aku bukan lagi orang yang ia inginkan. Aku sudah tak lagi diizinkan untuk melihat dirinya, menatap matanya, serta melindungi hatinya bahkan raganya. Waktuku sudah habis, bukan lagi masuk dalam masa tenggang, tapi memang sudah hangus, dan harus kuhapus.


"Alvin, sedang apa kamu sekarang?"

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengenalan