Harap dari Segala Harap
Kalau ternyata apa yang kita jalani akan ada akhir, lebih baik aku tidak memulainya sejak itu. Sama sekali tidak.
Perihal mengikhlaskan dan mengobati lebih sulit daripada apa yang akan dimulai dan dibuka.
Tak ada lagi kabar, tak ada lagi cerita, tak ada lagi tawa yang tercipta antara kita. Sudah tak ada lagi perjalanan yang kita buat untuk sebuah kenangan manis yang sangat pekat.
Kalau kamu menyimpulkan bahwa aku menyalahkan perpisahan, ya... aku memang akan mengakuinya.
Sejak itu aku lebih menyukai kopi pahit daripada hadirmu yang kini sudah tak ada dan harus kukenang dalam ingatan dan memori saja, hanya sekedar angan-angan yang tak akan jadi kenyataan.
Sejak itu, dan sejak perpisahan itu kopi pahit jadi lebih berasa daripada hatiku yang sama sekali tak berasa.
"Vin, maaf, ya. Maaf karena aku tidak mendengar nasihat baikmu tentang kecanduan kopi,"
Setelah semua yang kamu janjikan, tak selamanya kamu wujudkan.
Kamu pernah menjanjikan sebuah kebahagiaan yang pada akhirnya aku diberi sebuah kekecewaan juga.
Orang yang sama, orang pemberi kebahagiaan sekaligus orang penghancur semua mimpi dan harapan.
Semesta, kumohon, sekali saja berpihak padaku.
Janjikan aku kebahagiaan yang tidak ada kekecewaan.
Janjikan aku kesenangan yang tidak ada kehancuran.
Janjikan aku ketenangan yang tidak ada keributan.
Ternyata, takdir itu lucu, ya, semesta.
Kadang, apa yang kita cari gak berujung dengan titik temu pada pencarian itu.
Kadang juga, apa yang kita ingin gak berujung dengan takdir yang memihak.
Atau, apa yang kita jadikan tujuan, semesta sama Tuhan yang gak setuju.
Pada akhirnya, manusia cuma bisa minta yang terbaik sama Tuhan yang Maha Baik.
Apapun itu, perihal apapun itu.
Jadi, bantu aku untuk melupakannya, ya, Semesta.
Comments
Post a Comment